Aku punya dosen filsafat yang juga seorang filsuf yang murni eksentrik. Penampilannya "kumel" ditambah dengan jaket yang usang dan kacamata tebal yang tidak serasi, yang sering bertengger di ujung hidungnya. Sekali-sekali, seperti yang biasa dilakukan banyak dosen filsafat, ia memulai salah satu diskusi esoterik dan eksistensial tentang "apa arti hidup ini". Banyak dari pembahasan ini tidak mengarah kemana-mana, tapi ada beberapa yang mengena.
Inilah salah satunya:
"Jawablah pertanyaan berikut ini dengan mengacungkan tangan," perintah dosenku.
"Berapa banyak yang bisa menceritakan soal orangtua kalian?" Tangan semua orang diacungkan.
"Berapa banyak yang bisa menceritakan soal kakek-nenek kalian?" Sekitar tiga perempat kelas mengacungkan tangan.
"Berapa banyak yang bisa menceritakan soal buyut kalian?" Dua dari enam puluh mahasiswa mengangkat tangan.
"Lihatlah ke sekeliling ruangan," katanya. Hanya dalam dua generasi yang pendek, hanya sedikit sekali orang yang tahu soal buyutnya sendiri. Tentu, kita mungkin punya foto lusuh yang tersimpan di kotak rokok atau tahu kisah keluarga klasik tentang bagaimana salah seorang dari mereka berjalan sepuluh kilometer ke sekolah tanpa sepatu. Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar tahu siapa mereka, pikiran mereka, kebanggaan mereka, ketakutan mereka, atau impian mereka? Pikirkanlah itu. Dalam tiga generasi, leluhur kita sudah terlupakan. Apakah ini akan terjadi pada kalian?"
"Ini pertanyaan yang lebih baik. Lihat tiga generasi ke depan. Kalian sudah lama mati. Kelak cicit kalian yang duduk di sini seperti sekarang kalian yang duduk di ruangan ini. Apa yang bisa mereka ceritakan tentang diri kalian? Apakah mereka akan mengenal kalian? Ataukah kalian akan terlupakan juga?"
"Apakah hidup kalian akan menjadi peringatan atau teladan? Peninggalan apa yang akan kalian berikan? Pilihan ada di tangan kalian. Kelas usai."
Tak ada yang bangkit dari tempat duduk mereka sampai lima menit.
Chicken Soup for the College Soul
Iseng-iseng aku buka data di laptop, dan hasilnya aku nemu cerpen yang aku buat pas SMA dulu. Hmm...gmana ya ceritanya?? Liat aja langsung...
Btw, kalo jelek jangan diketawain ya... hehe..
Pagi itu Bu Nancy, guru matematikaku membagikan hasil ulangan kemarin. Dan lagi-lagi nilai ulangan Anggi lebih tinggi dari pada nilai ulanganku. Padahal biasanya nilaiku paling bagus di antara teman-teman sekelas dan Anggi sering di peringatkan karena nilainya seringkali tidak lulus. Dan karena aku kasihan pada Anggi, maka sebagai sahabat, aku selalu mengajarinya.
“Huh, Kenapa nilaiku tak lebih baik dari pada nilai Anggi?” gerutuku dalam hati.
“Makasih ya No, berkat bantuanmu aku bisa mendapatkan nilai baik lagi.” Kata Anggi dengan tersenyum padaku dan akupun balas tersenyum meskipun terpaksa. Lalu aku segera berjalan meninggalkannya.
Dengan wajah kebingungan, Anggi mengejarku. “No, kamu kenapa? Sakit ya?” Tanya Anggi dengan penuh perhatian.
“Ehmm... nggak kok, aku nggak sakit” jawabku sambil tersenyum.
Kupercepat langkahku menuju ke perpustakaan. Aku tak mau Anggi mengetahui perasaanku padanya. Entah sampai kapan aku bisa menyembunyikannhya.
“No, nanti sore belajar bareng lagi, ya!” tanya Anggi beberapa hari kemudian ketika ulangan matematika akan kembali di adakan.
“Sorry Gi, aku nggak bisa” tolakku berbohong. Kulihat kekecewaan di matanya dan jujur aku belum bisa melihat Anggi lebih berhasil daripadaku.
Tiap kali dia memintaku, aku selalu menolaknya. Anggi akhirnya mulai menjauh dariku. Dan aku pun bersahabat dengan orang lain. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari persahabatanku dengannya. Tapi aku tak tahu caranya bersahabat tanpa rasa iri pada sahabatku.
Siang ini Anggi kembali mendapat teguran dari Bu Nancy. Lagi-lagi nilai ulangannya tak lulus. Aku melihat Anggi yang tertunduk lesu. Sesaat kemudian Bu Nancy menghampiriku dan memberi pujian padaku karena nilaiku tertinggi di kelas. Tapi kali ini aku tak bangga dengan nilaiku ini. Kesedihan Anggi membuat kebanggaanku hilang.
Hatiku mulai tergerak untuk menolong Anggi. Tapi bagaimana jika nilai Anggi kembali melebihi nilaiku. Berbagai perasaan bercampur aduk dalam hatiku. Tiba-tiba aku tersadar. Aku bukanlah sahabat yang baik. Bukankah seharusnya seorang sahabat yang baik akan senang jika melihat sahabatnya berhasil? Dan lagi, ilmu tak akan berkurang meskipun dibagi-bagikan. Buktinya Bu Nancy, beliau tetap pintar meskipun telah memabagi-bagikan ilmunya pada ratusan bahkan ribuan muridnya.
Lalu kenapa nilaiku turun waktu itu? aku menginstropeksi diri dan ternyata waktu itu aku terlalu percaya diri sehingga aku kurang teliti dalam menuliskan jawabanku. Sehingga aku mendapatkan nilai yang kurang baik.
Akhirnya aku mengajak Anggi untuk belajar bersama lagi. “Sungguh?” tanya Anggi tak percaya. Dia tampak begitu gembira.
Aku mengangguk mantap. “Aku tunggu di rumahku ya! Jam enam nanti” Ketulusan hati yang sungguh keluar dari dalam hatiku. Aku ingin melihat Anggi sukses. Bahkan aku siap jika nilaiku dilampauinya.
Sorenya, sudah jam setengah tujuh tapi Anggi belum datang juga. Apa dia marah padaku? Apa mungkuin dia mau membalas penolakanku padanya? Atau…? Segera kubuang jauh-jauh pemikiran burukku. Sambil menunggu, aku belajar terlebih dahulu dengan mengerjakan soal-soal.
Tiba-tiba kudengar suara memanggilku dari luar rumah. Ternyata Anggi sudah datang.
“Ayo masuk. Aku sudah menunggumu dari tadi” ajakku
Anggi tertawa “Aku sudah selesai belajar, makanya aku telat, Kamu sudah selesai belajar juga kan?”
“Sudah sih, tapi bukannya kita mau belajar barsama?” aku balik bartanya.
“Setelah aku pikir-pikir, aku lebih baik berusaha sendiri. Baru nanti yang tidak aku mengerti aku tanyakan padamu.” Jelas Anggi.
“Terus kamu sudah bisa?” tanyaku. Anggi mengangguk dengan mantap.
“Kita cari makan aja, No!” ajak Anggi padaku.
“Ok kalau kamu memang sudah bisa. Tapi apa kamu yakin kamu bisa melebihi nilaiku?” tanyaku dengan bercanda.
“Kita lihat aja besok!” jawab Anggi dengan optimis. “Siapa yang nilainya lebih rendah, harus traktir nasi ayam, ya!”

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian dia duduk, meletakkan tasnya di pangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.
Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan tiba-tiba terlempar ke dunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya dia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu—penglihatannya takkan pernah pulih lagi.
Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung kepada Mark, suaminya.
Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggiran kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru— membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti?
Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu ke mana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku."
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore dia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.
Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, mengenakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana caranya menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menentukan di mana dia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus yang dapat mengawasinya dan menyisakan satu kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus.
Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apa pun dan tidak akan pernah menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran, dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jumat pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata, "Wah, aku iri padamu."
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak; Lagi pula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup? Dengan penasaran, dia bertanya kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri padaku?"
Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu."
Susan tidak tahu apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu?"
"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung," kata sopir itu.
Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa merasakan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberinya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri—hadiah cinta yang bisa menjadi penerang di mana pun ada kegelapan.
Chicken Soup for the Couple's Soul
